Candu Game Online Hambat Tumbuh Kembang Anak

Candu Game Online Hambat Tumbuh Kembang Anak

Kemunculan generasi gadget yang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agaknya membawa kekhawatiran tersendiri bagi praktisi kesehatan, pemerhati anak, serta orang tua. Pasalnya, penggunaan gadget yang keliru, termasuk juga pengenalan gadget yang terlalu dini berpotensi mengganggu seluruh aspek perkembangan anak.
Karena itu, orang tua jangan terlalu cepat berpuas hati jika ada balita yang sudah pintar mengoperasikan gadget karena bisa jadi itu adalah awal dari kemerosotan perkembangan! Tentang itu akan kita bahas lebih mendetail pada edisi selanjutnya karena pada edisi ini kita akan lebih fokus pada bagian kecil dari gadget itu sendiri yakni game atau permainan online.

Seyogianya bermain merupakan salah satu unsur penting dalam stimulasi perkembangan fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas, dan sosial seorang anak. Sedangkan pemainan online merupakan permainan yang berbasis elektronik visual yang dapat diakses dari rumah, warung internet, konsol serta gadget dengan menggunakan jaringan internet. Secara prinsip, permainan online tersebut tentu saja berbeda dengan permainan secara harfiah.

Mirip dengan penggunaan narkotika, alkohol, maupun konten porno, permainan online juga berpotensi menimbulkan adiksi atau kecanduan. Karakter dari perilaku adiksi yakni yang bersangkutan selalu ingin mengulang suatu perbuatan sekalipun ia paham bahwa perbuatan tersebut tidak berguna, bahkan cenderung membawa kerugian.

Di samping itu, pada adiksi akan timbul rasa cemas, gelisah, marah, serta ketidaknyamanan lain saat objek adiksi tidak terpenuhi. Adiksi sering dijadikan pelarian atas perasaan negatif hingga pada akhirnya pelaku menerimanya sebagai bagian dari diri. Perilaku adiksi juga akan semakin parah jika dilakukan semakin sering dan diterima oleh lingkungan sekitarnya.

Data di Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas pengguna permainan online adalah kalangan anak dan remaja (68%). Dari angka 68% tersebut, 25%-nya adalah anak balita, 55% anak usia sekolah, dan 20% usia remaja. Secara gender, sebanyak 52% penikmat permainan online adalah anak laki-laki dan 48% sisanya adalah anak perempuan. Bagian yang ironis, 25% dari anak laki-laki tersebut dan 19% dari anak perempuan mengalami adiksi permainan online.

Permainan online berhubungan dengan pelepasan senyawa tertentu di dalam otak, sehingga berpotensi menimbulkan kecanduan. Saat keinginan untuk bermain tidak terpenuhi, maka sistem limbik di otak akan terstimulasi, sehingga terjadi pula reaksi otonom seperti peningkatan tekanan darah, denyut nadi, dan laju napas yang disertai dengan perasaan tidak menyenangkan yang telah disebutkan sebelumnya.

Seperti yang tersirat pada judul tulisan ini, kecanduan pemainan online sangat berpotensi mengganggu proses tumbuh kembang. Aspek yang paling gampang dilihat adalah masalah sosialisasi. Anak banyak menghabiskan waktu untuk bermain dengan mesin, bukan manusia, sehingga bukan tidak mungkin jika mereka akan merasa canggung dan kurang nyaman saat harus berhadapan dengan teman-temannya yang adalah manusia.

Anak yang mengalami masalah sosialisasi biasanya juga mengalami kesulitan berkomunikasi, baik berbicara, mendengarkan, maupun membaca ekspresi lawan bica. Permainan online yang melibatkan kekerasan, seperti peperangan dan pembunuhan akan memicu agresivitas dan mengikis empati anak dalam pergaulan sehari-hari.

Candu permainan online juga membuat anak kehilangan kontrol diri. Mereka merasa senang saat bermain, sehingga akan terpacu untuk terus dan terus bermain. Namun, bukan hanya masalah psikis, permainan online juga menghambat sistem motorik.

Tubuh yang kurang aktif bergerak akan kurang mendapat kesempatan untuk mengembangkan fungsi motorik dari otot-otot. Menatap layar gadget dalam waktu lama berpotensi menyebabkan nyeri kepala, nyeri leher, gangguan tidur, dan gangguan penglihatan.

Karena permainan online dapat menimbulkan masalah kesehatan, maka penanganannya juga dilakakukan dengan pendekatan berbasis kesehatan.

Terapi kognitif perilaku adalah salah satu alternatif. Namun, dikarenakan angka kekambuhan setelah terapi selesai masih cukup tinggi, kebanyakan praktisi kesehatan lebih memilih terapi edukasi. Terapi itu tentu saja wajib melibatkan orang tua sebagai unsur dominan. Orang tua harus berkomunikasi secara terbuka dengan anak. Namun, orang tua juga harus berhati-hati karena dengan terlalu keras melarang anak yang telah kecanduan permainan online dapat menyebabkan anak berperilaku menyimpang.

Orang tua dimotivasi untuk mendorong minat anak pada kegiatan sosial, mendukung hobi positif anak, membatasi serta menjadwalkan waktu permainan online dengan pengawasan, memanfaatkan aplikasi untuk membatasi akses permainan online, menyediakan waktu untuk berkomunikasi dan bersama-sama mencari solusi terhadap masalah yang dialami anak, serta memberikan kesempatan pada anak untuk berkonsultasi dengan figur selain orang tua semisal guru, teman, saudara dekat.

Keberhasilan terapi penanganan candu permainan online memang sulit untuk diprediksi. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan, seperti lama menderita adiksi, tingkat pendidikan, latar belakang kepribadian, lingkungan sekitar termasuk keluarga, dan sejumlah faktor lain yang tidak boleh dieliminasi begitu saja. Oleh karena hal sesepele permainan online bisa menyebabkan masalah jangka pendek maupun jangka panjang yang cukup kompleks, mungkin ada bijaknya jika kita mulai menaruh perhatian terhadap hal tersebut.

 

sumber :Game online

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *