Serangan Panik Beda Dengan Serangan Jantung, Ini Faktanya

Serangan Panik Beda Dengan Serangan Jantung, Ini Faktanya

Serangan panik dapat dirasakan oleh siapa pun dan di mana saja secara tiba-tiba. Meski umumnya tidak berbahaya, tapi serangan yang sering disangka sebagai serangan jantung ini, bagi sebagian orang, dapat terasa mencekam.

Serangan panik adalah kecemasan intens yang ditandai dengan gejala fisik yang umumnya terjadi mendadak dan tanpa alasan jelas. Sebagian orang yang mengalami serangan panik bisa jadi merasa ingin pingsan atau seakan-akan hidupnya akan berakhir. Padahal sebenarnya gejala ini umumnya tidak berbahaya.

Kepanikan yang biasanya terjadi selama 5-20 menit ini sering disalahartikan sebagai serangan jantung. Pada umumnya, seseorang yang mengalami serangan panik tidak perlu dirawat di rumah sakit, walau sebagian orang lainnya bisa jadi membutuhkan perawatan.

Serangan Panik atau Serangan Jantung

Serangan jantung dan panik memiliki gejala yang serupa seperti timbul secara mendadak dan irama jantung yang cepat. Jadi bagaimana cara kita membedakannya? Satu hal yang mendasari perbedaan kedua kondisi tadi adalah serangan jantung biasanya memiliki gejala berupa denyut jantung tidak teratur yang timbul dan berhenti secara tiba-tiba. Sedangkan serangan panik, denyut jantung secara perlahan-akan akan kembali ke normal.

Perbedaan lainnya adalah serangan jantung dapat disertai dengan gejala yang berubah drastis. Misalnya, dua atau tiga denyut jantung yang sangat cepat, diikuti 3 denyut jantung yang melambat, kemudian cepat lagi. Sedangkan di serangan panik, denyut jantung dirasa cepat tetapi teratur.

Mari Kita Kenali Serangan Panik secara Lebih Mendetail

Gejala serangan panik bisa terpicu saat tubuh sedang dalam keadaan waspada dan tegang.  Saat ini, tubuh melepaskan hormon adrenalin yang menyebabkan otot menegang dan jantung berdetak lebih kencang. Pernapasan menjadi lebih cepat tetapi pendek sehingga terjadi hiperventilasi. Pernapasan normal terjadi ketika kadar oksigen dan karbondioksida di dalam tubuh seimbang. Ketika terjadi hiperventilasi, maka keseimbangan ini terganggu dan kadar karbondioksida di dalam tubuh menjadi sangat rendah.

Maka tidak heran jika seseorang yang mengalami serangan panik dapat mengalami tanda-tanda fisik, seperti tubuh gemetar, berkeringat lebih banyak, detak jantung tidak teratur, telinga berdenging, kepala pening, merasa seperti tersedak, sesak napas, jari-jemari kesemutan, dada terasa nyeri, serta seakan-akan merasa kehilangan kendali atas diri sendiri.

Kondisi yang sering terjadi di usia dewasa muda ini lebih berisiko terjadi pada wanita dibandingkan pria. Pada sebagian kasus, kondisi ini bisa bersifat diturunkan dalam keluarga (keturunan). Pada sebagian orang, serangan panik lebih berisiko terjadi saat mengalami perubahan hidup yang fundamental, seperti memiliki anak pertama atau memulai hari pertama di tempat kerja yang baru. Kondisi ketakutan akan sesuatu (fobia), sindrom gangguan obsesif kompulsif, dan penggunaan mariyuana juga dapat menjadi penyebab serangan panik.

Serangan Panik Dapat Dikendalikan sekaligus Dicegah

Pengidap serangan panik sayangnya lebih berisiko untuk mengalami depresi, penyalahgunaan obat-obatan, kecanduan minuman keras, hingga percobaan bunuh diri. Kabar baiknya, menurut seorang profesor psikologi klinis, serangan panik sebenarnya masih dapat dikontrol. Situasi yang umumnya disebabkan oleh kecemasan ini sebaiknya jangan dialihkan, melainkan harus dihadapi. Hasil positif bisa lebih mudah dan cepat diraih jika ada seseorang yang senantiasa mendampingi penderita.

Berikut beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengendalikan dan mencegah serangan panik.

  • Mengolah pernapasan. Tarik napas perlahan-lahan dan dalam melalui hidung, tahan selama setidaknya lima detik. Keluarkan napas perlahan-lahan melalui mulut. Lakukan dengan mata tertutup agar pikiran dapat terfokus kepada proses pernapasan. Latihan pernapasan ini sebaiknya tidak hanya dilakukan saat terjadi serangan panik, tapi lakukanlah tiap hari untuk membantu mencegah dan meredakan serangan jika menyerang kembali.
  • Stabilkan kadar gula darah dengan makan secara teratur. Sebaiknya hentikan juga kebiasaan merokok, kurangi minuman keras, dan batasi minuman berkafein yang dapat memperburuk serangan.
  • Olahraga aerobik secara teratur dapat membantu meredakan ketegangan, meredakan
  • stres, meningkatkan kepercayaan diri, dan meningkatkan mood sehari-hari.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting, cobalah mencermati pemicu stres yang mungkin menyebabkan serangan panik. Terlepas dari adanya fakta bahwa kondisi ini tidak dianggap sebagai darurat medis, tapi jika dirasa mengkhawatirkan, ada baiknya untuk memeriksakan diri untuk memastikan bahwa gejala tersebut bukanlah tanda-tanda penyakit yang lebih serius.

Periksakan diri ke dokter jika mengalami serangan panik dengan gejala-gejala sebagai berikut.

  • Pernapasan sudah kembali normal, tapi Anda masih merasa tidak sehat.
  • Serangan panik masih berlanjut setelah bernapas perlahan-lahan selama 20 menit.
  • Merasa mengalami gangguan panik karena sering mengalami serangan panik.
  • Dada terasa sakit dan/atau detak jantung masih tidak teratur meski serangan panik telah berakhir.

Seseorang yang membutuhkan bantuan medis dapat dibantu dengan prosedur penanganan cognitive behavioural therapy (CBT) untuk mengubah pola pikir yang memicu serangan panik. Dokter mungkin juga akan meresepkan obat-obatan antidepresan atau obat penyakit jantung yang dikenal sebagai obat penghalang beta untuk membantu mencegah gangguan panik.

 

sumber : alodoktor

4 Informasi Dasar Tentang Persalinan Yang Wajib Diketahui Para Calon Ibu

4 Informasi Dasar Tentang Persalinan Yang Wajib Diketahui Para Calon Ibu

Buat wanita yang baru pertama kali hamil mungkin penasaran dan bertanya-tanya mengenai seluk-beluk dunia persalinan. Nah, informasi dasar mengenai persalinan berikut ini mungkin bisa memberi gambaran kepada para calon ibu mengenai proses persalinan.

Sebenarnya, proses persalinan yang dijalani tiap wanita berbeda-beda. Namun, secara garis besar, kamu akan melalui proses persalinan seperti penjelasan di bawah ini:

Tanda-tanda awal kamu akan melahirkan. Ketika sudah mendekati waktu melahirkan, tubuhmu akan mulai mempersiapkan diri untuk mengeluarkan Si Kecil dari kandungan. Beberapa hal yang mungkin terjadi yaitu:

  • Suasana hatimu menjadi tidak menentu. Kamu mungkin akan terbangun dengan perasaan yang sangat bersemangat menyambut kehadiran Buah Hati ke dunia, namun terkadang kamu bisa merasa sangat emosional.
  • Tidur menjadi tidak nyenyak.
  • Punggung bagian bawah terasa sakit. Rasanya seperti ketika kamu sedang menstruasi.
  • Terasa ada tekanan pada panggul atau seperti ada sensasi bayi yang mulai bergeser ke bawah (jalan lahir).
  • Produksi cairan vagina meningkat. Cairan tersebut berwarna jernih, pink (merah muda) atau bisa disertai sedikit darah. Kondisi ini mungkin dapat terjadi beberapa hari sebelum atau saat persalinan terjadi.
  • Kontraksi akan kamu rasakan pada saat ini. Ketika mengalami hal tersebut, kamu akan mengalami perasaan mulas atau perut seperti dicengkeram, lalu kemudian rileks kembali. Kontraksi dapat muncul secara berkala, misal tiap beberapa menit sekali. Mendekati persalinan, kontraksi dapat muncul lebih kuat, lebih lama, dan makin sering.
  • Air ketuban pecah. Kebanyakan wanita dapat mengalami pecah ketuban saat persalinan, namun ada juga yang sebelumnya. Terkadang sulit untuk mengetahui bahwa air ketuban telah pecah. Itu karena keluarnya air ketuban mungkin mirip dengan urine, sehingga sulit untuk membedakan keduanya. Untuk mengetahui seperti apa rasanya air ketuban yang pecah, kamu bisa membacanya di sini.

Kapan harus bergegas ke rumah bersalin? Kamu disarankan untuk pergi ke rumah bersalin ketika kontraksi terjadi sekitar 30 hingga 60 detik dan waktu munculnya berselang 3 hingga 5 menit.

Kamu juga harus segera meluncur ke rumah bersalin ketika:

  • Kamu merasa air ketubanmu telah pecah.
  • Mengalami perdarahan vagina.
  • Pergerakan bayimu berkurang dari biasanya.
  • Kamu merasa demam, pusing, atau nyeri perut yang hebat.

Apakah melahirkan sakit? Melahirkan memang menyakitkan, namun kamu tidak perlu khawatir karena tubuhmu sudah didesain untuk bisa menghadapinya, kok. Lagipula, rasa sakit ini bisa memberikan informasi mengenai sudah sejauh mana proses persalinan berlangsung. Jika tidak tahan dengan rasa sakitnya, kamu bisa memanfaatkan metode pengurang rasa sakit baik secara medis atau alami.

Berapa lama proses persalinan berlangsung? Sebenarnya tidak ada yang bisa memprediksi berapa lama proses persalinan normalmu akan berlangsung. Semua itu tergantung dari berbagai faktor seperti posisi dan ukuran bayi, kekuatan kontraksi, dan seberapa mudah rahim kamu melebar.

Jika mau diperkirakan, tim medis biasanya menghitung proses persalinan sejak tubuhmu sudah mulai aktif menghadapi persalinan. Fase aktif ini ditandai oleh kontraksi yang datangnya lebih kuat, lebih lama (5 hingga 60 detik), dan lebih sering (setiap 3 atau 4 menit sekali), dan serviks kamu telah terbuka sebesar 3-4 cm.

Untuk wanita yang baru pertama kali melahirkan, fase aktif mungkin dapat berlangsung sekitar 8-17 jam, ditambah waktu mengejan sekitar 1 hingga 2 jam. Jika kamu sudah pernah melahirkan, fase aktif mungkin memakan waktu sekitar 5-12 jam ditambah waktu mengejan paling lama sejam (seringnya hanya memakan waktu 5 hingga 10 menit).

Tahapan terakhir dari proses persalinan adalah lahirnya plasenta. Plasenta bisa keluar secara alami atau dengan bantuan dari tenaga medis. Secara alami, plasenta akan keluar dari rahim selama sekitar 20 menit, dan akan lebih cepat bila dibantu oleh tenaga medis (5-10 menit).

Meski tanggal prediksi persalinanmu masih jauh, kamu bisa, kok, mulai mempersiapkan dirimu  untuk menghadapi persalinan. Salah satu caranya dengan mencari tahu segala informasi yang berkaitan dengan persalinan. Bekal informasi ini bisa bermanfaat, lho, saat waktunya tiba. Kamu akan lebih siap dari segi fisik dan mental karena kamu sudah tahu gambaran yang dapat terjadi selama proses persalinan berlangsung.

 

sumber :  alodoktor

Tanda-Tanda Melahirkan Sudah Dekat

Tanda-Tanda Melahirkan Sudah Dekat

Melahirkan merupakan proses yang panjang dan melelahkan. Sebelum memasuki tahap tersebut, Anda akan mengalami tanda-tanda melahirkan. Tidak semua wanita mengalami tanda-tanda melahirkan yang sama.

Namun untuk mempersiapkan diri dan bersiaga dalam menghadapi persalinan, Anda bisa memerhatikan beberapa tanda melahirkan yang mungkin terjadi pada fisik dan emosional Anda. Biasanya tanda-tanda semacam ini terjadi beberapa minggu atau hari sebelum persalinan. Dari segi fisik, mungkin Anda akan merasakan perubahan pada tubuh Anda seperti:

  • Merasakan nyeri pada punggung, sakit perut atau kram selayaknya masa pramenstruasi.
  • Sulit untuk tidur.
  • Frekuensi buang air kecil meningkat. Beberapa pekan atau jam sebelum persalinan, bayi akan turun ke tulang panggul Anda. Kondisi ini membuat rahim bersandar lebih sering pada kandung kemih sehingga frekuensi buang air kecil menjadi makin meningkat dibandingkan biasanya.
  • Keluar lendir kental bercampur darah dari vagina. Selama hamil, serviks Anda ditutupi oleh lendir yang kental. Namun ketika mendekati persalinan, serviks Anda akan membesar dan membuat jalan lendir itu keluar melalui vagina. Warnanya bisa bening, merah muda, atau sedikit berdarah. Namun lendir bercampur darah tidak selalu menjadi tanda awal bahwa Anda akan melahirkan. Lendir ini bisa keluar juga ketika Anda berhubungan seks pada saat sedang hamil atau melakukan pemeriksaan vagina.
  • Merasakan kontraksi palsu. Kontraksi ini biasa disebut Braxton Hicks atau terjadi pengencangan perut yang datang dan pergi. Namun pengencangannya tidak sekuat kontraksi sungguhan ketika melahirkan. Biasanya kontraksi ini berlangsung 30 hingga 120 detik. Berbeda dengan kontraksi sungguhan, kontraksi Braxton Hicks dapat hilang ketika Anda berpindah posisi atau relaks. Kontraksi ini akan Anda rasakan sebelum mengalami kontraksi sungguhan. Perbedaan lain kontraksi ini dengan kontraksi sungguhan, yaitu kontraksi Braxton Hicks hanya terasa di daerah perut atau panggul, sementara kontraksi sungguhan biasanya terasa di bagian bawah punggung kemudian berpindah ke bagian depan perut.
  • Perubahan pada serviks. Jaringan pada serviks Anda akan melunak atau menjadi elastis. Jika Anda sudah pernah melahirkan, serviks Anda akan lebih mudah membesar sekitar satu atau dua sentimeter sebelum persalinan dimulai. Namun jika Anda baru pertama kali mengalami masa-masa ini, pembukaan serviks sebesar satu sentimeter tidak bisa menjadi jaminan Anda akan segera melahirkan.
  • Air ketuban pecah. Tanda melahirkan paling umum yang diketahui oleh kebanyakan orang adalah pecahnya air ketuban. Kebanyakan wanita lebih dulu merasakan kontraksi sebelum air ketuban pecah, tapi ada juga yang mengawalinya dengan pecahnya ketuban. Ketika hal ini terjadi, biasanya persalinan akan menyusul dengan segera. Namun bahayanya, jika air ketuban sudah pecah, tapi Anda tidak juga mengalami kontraksi, maka bayi Anda akan lebih mudah terserang infeksi. Hal itu dikarenakan cairan yang selalu melindungi bayi dari kuman selama berada di kandungan ini telah habis. Jika hal ini terjadi, proses induksi akan dilakukan untuk keselamatan bayi Anda. Jika Anda sudah mengalami pecah ketuban, bergegaslah ke rumah sakit. Biasanya persalinan akan terjadi sekitar 24 jam setelah ketuban pecah.

Sementara dari segi emosional, Anda bisa merasa mudah marah atau moody selayaknya masa-masa pramenstruasi.

Tips Mendekati Masa Persalinan

Umumnya proses melahirkan terjadi pada usia hamil 9 bulan atau 40 minggu. Pada usia tersebut fisik bayi telah siap untuk menjalani kehidupan di luar rahim Anda. Namun tidak semua wanita melahirkan pada kisaran waktu tersebut.

Jika Anda sudah memasuki bulan ke-9 kehamilan, sebaiknya Anda telah menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan selama persalinan. Jadi jika air ketuban telah pecah atau terjadi kontraksi, Anda bisa langsung membawa perlengkapan tersebut, lalu bergegas ke rumah sakit. Perlengkapan yang perlu Anda bawa meliputi:

  • Tas berisi pakaian dan peralatan mandi.
  • Perlengkapan bayi.
  • Makanan ringan.
  • Buku, majalah atau barang apa pun yang bisa menemani Anda menunggu persalinan.
  • Bantal dan selimut yang nyaman.
  • Jika Anda ingin mengabadikan momen bahagia ini, Anda bisa juga menyiapkan kamera video dengan baterai yang telah terisi penuh beserta charger.

Simpan barang-barang tersebut di satu tempat yang mudah dijangkau saat kondisi darurat.

Selain perlengkapan, Anda juga sudah harus memastikan siapa yang akan mendampingi Anda selama persalinan. Anda bisa memilih suami, ibu, atau menyewa doula. Doula adalah seorang tenaga terlatih yang biasa membantu para wanita saat bersalin. Pastikan mereka siap menemani Anda saat persalinan dimulai.

Mengetahui tanda-tanda melahirkan sangat penting bagi para ibu, terutama yang berencana melahirkan secara normal. Berbeda Jika Anda berencana melahirkan dengan bantuan operasi caesar, yang mana Anda bisa melahirkan bayi Anda kapan pun selama fisiknya sudah cukup untuk dilahirkan.

Dengan mengetahui tanda-tanda melahirkan, Anda juga akan menjadi lebih siap dalam menghadapi persalinan.

 

sumber : alodoktor

6 Kekhawatiran Ibu Hamil Trimester Ketiga

6 Kekhawatiran Ibu Hamil Trimester Ketiga

Ketika ibu hamil memasuki trimester ketiga, rasanya sudah makin tidak sabar untuk segera bertemu bayi tercinta. Namun di saat yang sama, tidak jarang berbagai kesibukan dan kecemasan tiba-tiba melanda, mulai dari menjaga kondisi kesehatan ibu dan janin hingga persiapan perawatan Si Kecil saat sudah lahir nanti.

Berbagai pertanyaan dalam benak Bunda tentang kesehatan dan kesejahteraan Sang Buah Hati bisa semakin menambah kegundahan bahkan berujung stres. Padahal, dengan mengetahui penjelasan dari setiap kegelisahan yang dirasakan, Bunda bisa menjalani masa-masa akhir kehamilan dengan lebih tenang dan optimis.

Agar tidak terlarut di dalam kecemasan, simak beberapa kekhawatiran yang umum menimpa ibu hamil pada trimester ketiga dan jawabannya.

  • Bolehkah Ibu Hamil Tidur Telentang?

Tidur telentang tidak dianjurkan untuk ibu hamil pada trimester ketiga karena rahim yang sudah lebih berat dapat menekan pembuluh darah yang akhirnya mengurangi aliran darah ke janin.

Untuk memperbaiki sirkulasi darah, upayakan untuk tidur menyamping, terutama menghadap kiri. Ini karena rahim secara alami berputar ke kanan sehingga tidur di sisi kiri dianggap sebagai pilihan terbaik agar tidak menekan rahim. Agar nyaman, gunakan bantal untuk menyangga kaki dan punggung.

  • Bagaimana Bila Janin Berhenti Bergerak?

Gerakan janin merupakan suatu pertanda bahwa dia dalam keadaan baik. Ibu hamil, terutama pada trimester ketiga, perlu memperhatikan gerakan janin dari hari ke hari untuk mengetahui apakah dia terus bergerak normal atau tidak bergerak seperti yang biasanya. Pada trimester ketiga, gerakan janin bisa berubah-ubah. Bila pada trimester sebelumnya Si Kecil suka meninju atau menjentik, maka pada trimester ketiga ini dia lebih suka berputar maupun mengeluarkan lengan atau kakinya sehingga perut Bunda terlihat menonjol sedikit di suatu sisi.

Bila janin tidak bergerak sebanyak biasanya, Bunda perlu makan dan kemudian berbaring menyamping ke kiri. Jika dalam dua jam setelah itu janin masih tidak bergerak sebanyak 10 kali, hubungi dokter. Dokter akan melakukan tes nonstres, tes kontraksi, ataupun profil biofisik.

  • Bagaimana Jika Cairan Ketuban Terlalu Sedikit?

Menurut data sebuah asosiasi ibu hamil, sekitar empat persen ibu hamil memiliki volume cairan ketuban yang rendah, biasanya pada trimester ketiga. Ibu hamil perlu ikut memantau volume air ketuban saat pemeriksaan kehamilan. Jika cairan ketuban terlalu sedikit atau bahasa medisnya oligohidramnion, dokter atau bidan akan mengecek dengan cermat kondisi kehamilan Bunda untuk memastikan janin terus tumbuh secara normal. Namun, bila kondisi oligohidramnion ini terjadi pada masa akhir kehamilan, kemungkinan akan dilakukan induksi persalinan.

  • Bagaimana Jika Ibu Hamil Mengalami Preeklamsia?

Preeklamsia adalah suatu kondisi serius, yaitu ketika tekanan darah tinggi dan kadar protein di dalam urine dinyatakan abnormal setelah 20 minggu kehamilan. Pada pemeriksaan antenatal biasanya akan dicek tekanan darah Bunda serta kadar protein urine. Selain dari pengecekan tersebut, preeklamsia juga bisa diketahui dari gejalanya yang mencakup sakit kepala parah, nyeri tepat di bawah tulang rusuk, masalah penglihatan, serta pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, wajah dan tangan.

Dengan penanganan yang tepat, ibu dan bayi bisa terhindar dari kondisi berbahaya. Lain ceritanya bila preeklamsia berlanjut dengan cepat karena justru bisa membahayakan nyawa. Bahkan, ibu hamil dengan preeklamsia parah dan terus memburuk berkemungkinan besar perlu melahirkan dini (prematur). Pada kondisi demikian, melahirkan bayi merupakan satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk menangani preeklamsia. Biasanya, penanganan tersebut dilakukan pada ibu hamil dengan usia kandungan 37-38 minggu, atau bisa lebih dini bila kasusnya lebih parah. Bila terdiagnosis menderita preeklamsia, Bunda harus dirujuk untuk menjalani penilaian oleh dokter spesialis di rumah sakit.

Bunda dapat mencegah terjadinya preeklamsia dengan beberapa cara berikut.

  • Berolahraga secara teratur.
  • Mencukupi istirahat.
  • Mencukupi kebutuhan air putih, minimal 6-8 gelas sehari.
  • Hindari minuman yang mengandung kafein, seperti teh dan kopi.
  • Jangan banyak mengonsumsi makanan yang digoreng atau makanan siap saji.
  • Batasi penggunaan garam untuk makanan, meski masih diperbolehkan sedikit saja. Untuk lebih aman, lebih baik jangan mengonsumsi garam sama sekali.
  • Tinggikan posisi kaki Bunda beberapa kali dalam sehari.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol.
  • Haruskah Memberikan ASI?

Usia kehamilan trimester ketiga merupakan waktunya Bunda memutuskan apakah akan memberikan Air Susu Ibu (ASI) atau susu formula untuk Sang Buah Hati nantinya. Secara umum, para dokter merekomendasikan pemberian ASI minimal selama satu tahun pertama usia bayi. Bunda tidak boleh memberikan ASI bila Bunda positif HIV atau AIDS, TBC (tuberculosis) aktif, maupun beberapa bentuk hepatitis. Sementara untuk ibu pekerja yang tidak memungkinkan menyusui dari payudara bisa mencoba alternatif, seperti memberikan ASI melalui botol. Pemberian ASI sangat penting karena bermanfaat untuk kebaikan Bunda dan bayi.

Berikut adalah manfaat menyusui bagi Bunda:

  • Menurunkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium atau indung telur.
  • Menurunkan risiko osteoporosis.
  • Menyusui bisa menjadi kontrasepsi alami.
  • Lebih cepat kembali ke berat badan sebelum hamil.
  • Ukuran rahim dan perut lebih cepat kembali seperti sebelum hamil.

Sementara itu, manfaat menyusui bagi Si Kecil antara lain:

  • Menjalin ikatan antara Bunda dan bayi.
  • ASI mudah dicerna.
  • Menurunkan risiko alergi.
  • Mendapat imunoglobulin yang berguna untuk mencegah penyakit dan infeksi.
  • Menurunkan risiko obesitas dan diabetes di kemudian hari.
  • Menurunkan risiko diare dan sembelit.
  • Apakah Bunda Perlu Berhenti atau Pindah Kerja?

Kehamilan bukanlah kecacatan yang menghalangi Bunda untuk bisa bekerja, namun memang ada kalanya kondisi kehamilan dapat menghambat pekerjaan. Oleh karena itu, Bunda perlu membangun komunikasi yang baik dengan pihak pemberi kerja. Apa lagi beberapa kondisi kehamilan akan memerlukan tirah baring (bed rest), misalnya setelah melalui kelahiran prematur, plasenta previa, preeklamsia, dan serviks inkompeten.

Bunda perlu mempertimbangkan berhenti atau pindah kerja bila lingkungan kerja Bunda memiliki potensi keamanan yang mengkhawatirkan, misalnya bekerja dalam ventilasi yang buruk dengan asap berbahaya seperti gas anestesi atau bahan kimia yang mudah menguap, paparan radiasi, serta paparan cat berbahan dasar timah untuk waktu yang lama.

Berpikirlah positif dan optimis bahwa persalinan dapat berjalan lancar serta kondisi ibu dan bayi dalam keadaan sehat. Dengan rutin melakukan pemeriksaan kehamilan, menerapkan pola hidup sehat untuk ibu hamil, serta berpikir positif dan optimis, maka kekhawatiran ibu hamil trimester ketiga bisa diatasi dengan baik.

 

 

sumber : alodoktor

Sering Lelah dan Pusing? Jangan-jangan Anda Menderita Bradikardia

Sering Lelah dan Pusing? Jangan-jangan Anda Menderita Bradikardia

Kadang-kadang, turunnya tingkat energi Anda bukan hanya karena efek samping bertambahnya umur atau karena kurang istirahat. Bisa jadi itu adalah gejala bradikardia.

Barbara Hanson, seorang guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Dallas Amerika Serikat, merasa heran karena dia merasakan detak jantungnya seperti melambat dan dia mulai sering terjatuh lemas.

Saat memeriksakan diri ke dokter, dokter memintanya untuk melakukan pemeriksaan EKG.  Benar saja, hasilnya menunjukkan bahwa Handon menderita bradikardia.

Apa itu Bradikardia?

“Bradikardia adalah gangguan irama jantung,” kata David Friedman, MD, kepala layanan gagal jantung di Rumah Sakit Franklin North Shore-LIJ di Valley Stream, New York, dan asisten profesor di Hofstra North Shore-LIJ School of Medicine. Gangguan ini ditandai dengan denyut jantung kurang dari 60 denyut permenit, menurut American Heart Association.

Bradikardia mengurangi kemampuan jantung untuk memompa darah yang kaya oksigen ke tubuh,” kata Dr Friedman Hasilnya adalah kelelahan, sesak napas, nyeri dada, dan intoleransi olahraga. Pasien juga punya kecenderungan untuk pingsan atau merasa mudah pusing, dua ini adalah gejala awal bradikardia.

Risiko bradikardia cenderung lebih tinggi pada mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.  Tes EKG dapat membantu dokter melihat kondisi tersebut. Pilihan lain: Melacak detak jantung Anda dengan monitor Holter, yang dapat mengidentifikasi gangguan irama jantung.

Bagaimana mengobati bradikardia?

Bradikardia dapat diobati, bahkan disembuhkan. Friedman menjelaskan bahwa obat-obatan tertentu dapat memperlambat denyut jantung seseorang. Menghentikan pengobatan, pada gilirannya dapat menghentikan kondisi bradikardia.

Dokter juga bisa mengobati bradikardia dengan alat pacu jantung. Alat pacu jantung adalah perangkat kecil yang dioperasikan dengan baterai dam ditanamkan ke dada pasien. Alat ini terus memantau sistem listrik jantung dan memperbaiki ritme yang abnormal.

Kekurangan alat pacu jantung adalah, kerjanya bisa terganggu dengan keberadaaan ponsel, mesin MRI, dan detektor logam.

Sekarang, Hanson memakai alat pacu jantung dan merasakan kualitas hidupnya membaik. “Jangan remehkan gejala-gejala yang muncul, apalagi jika usia Anda termasuk senior. Periksakan diri ke dokter jika Anda merasakan gejala yang mencurigakan seperti merasa sesak napas akhir-akhir ini atau lelah yang abnormal seharian,” kata Friedman.

 

Ditinjau oleh: dr. Adnan Yusuf

 

 

sumber : meetdoctor

Berolahraga Saat Sedang Marah Berisiko Mengalami Ini

Berolahraga Saat Sedang Marah Berisiko Mengalami Ini

Bagi penggemar olahraga, perubahan suasana hati, baik senang, sedih atau marah, tidak akan menyurutkan niat untuk berlatih. Dan biasanya, setelah berolahraga, Anda akan merasa lebih baik karena kadar hormon kenyamanan yang bernama endorfin akan naik.

Tapi, menurut studi yang dimuat dalam jurnal Circulation, akan ada risiko negatif jika Anda berolahraga dalam kondisi marah.

Para peneliti mengevaluasi kegiatan dan suasana hati lebih dari 12 ribu orang dari 52 negara, 24 jam sebelum mereka mendapat serangan jantung. Orang-orang ini adalah orang yang sebelumnya telah didiagnosa mengalami masalah kardiovaskular.

Penemuan mengungkapkan, ternyata kemungkinan mengalami serangan jantung, tiga kali lebih besar bagi mereka yang merasa marah 60 menit sebelum berolahraga.  “Ini adalah apa yang kita sebut paradoks olahraga,” kata Dermot Phelan, M.D., Direktur Sports Cardiology Center Cleveland Clinic. “Selama latihan, risiko Anda mendapat serangan jantung meningkat jika ada kondisi yang mendasarinya. Kondisi yang dimaksud adalah diabetes, tekanan darah dan kolesterol tinggi.” Rasa marah akan meningkatkan tekanan darah Anda.

Jadi, jika Anda sudah memiliki masalah jantung, berolahraga teratur adalah hal yang penting untuk dilakukan karena olelahraga dapat meningkatkan kesehatan jantung Anda. Tapi, olahraga juga meningkatkan risiko serangan jantung di waktu-waktu Anda sedang menggerakkan tubuh di gym.

Perlu diingat, studi ini bicara tentang orang-orang yang sudah cenderung untuk mendapat serangan jantung, bukan tentang semua orang yang berolahraga sambil marah. Jika Anda tidak memiliki faktor risiko, besar kemungkinan Anda tidak perlu khawatir untuk tetap berolahraga meski dalam keadaaan hati yang panas. Plus, rata-rata relawan dalam studi ini berusia 58 tahun dan lebih dari 75 persennya adalah pria.  Tidak diketahui apakah risiko yang sama juga berlaku untuk orang-orang muda dan wanita.

Berolahraga telah terbukti dapat mengurangi stres.  Bahkan dapat digunakan dalam pengobatan depresi klinis, demikian menurut banyak penelitian selama beberapa dekade terakhir ini. Namun, meredakan kemarahan sebelum memulai sesi latihan, adalah yang terbaik.

Jika Anda tetap memilih untuk berolahraga sambil marah, Phelan menyarankan agar Anda memertimbangkan faktor-faktor risiko yang mungkin Anda miliki seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, atau riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular.

“Intinya, Jika Anda berusia muda dan kondisi Anda bugar serta tidak memiliki faktor risiko, studi ini tidak melarang Anda berolahraga walau sambil marah,” kata Phelan lagi.

 

Ditinjau oleh: dr. Adnan Yusuf

 

sumber : meetdoctor

Gejala Kanker Payudara pada Pria

Gejala Kanker Payudara pada Pria

Kanker payudara tidak hanya bisa terjadi pada perempuan, pria pun bisa mengalaminya. Meski ukuran payudara pria jauh lebih kecil ketimbang perempuan, namun laki-laki masih memiliki jaringan dan membran payudara yang dapat memicu datangnya kanker.

Semakin bertambah usia, kemungkinan laki-laki terkena kanker payudara bisa semakin besar. Terlebih lagi bila Anda tidak memeriksanya sedari dini. Tingkatkan level kewaspadaan Anda pada kanker payudara jika Anda:

  • Memiliki riwayat keluarga pernah terkena kanker (turunan)
  • Bagian dada pernah terkena atau mendapat radiasi
  • Mengonsumsi rokok dan alkohol
  • Memiliki ukuran payudara yang tidak wajar
  • Mudah merasa lelah dan sakit
  • Sering dehidrasi
  • Mengalami penurunan berat badan
  • Memiliki nyeri atau benjolan/tonjolan di daerah payudara
  • Keluar cairan pada puting susu
  • Memiliki napas yang pendek/sering sesak napas

Bila Anda memiliki tanda-tanda di atas, segera lakukan pemeriksaan payudara sendiri atau konsultasikan pada dokter. Biasanya, dokter akan merekomendasikan Anda untuk mengikuti serangkaian tes medis seperti fisik, mamografi, dan biopsi (pemeriksaan jaringan) untuk memastikan diagnosa ada/tidaknya kankerpayudara dan tipe kanker jika ditemukan jaringan kanker payudara yang berubah ukuran.

Langkah pencegahan sebaiknya Anda lakukan dari sekarang. Selain melakukan pemeriksaan mandiri, Anda dapat menjalani tips berikut ini untuk mencegah datangnya kanker payudara:

  • Olahraga yang teratur

Menjalani olahraga secara teratur akan menurunkan kadar lemak jahat dan jenuh yang dapat menyebarkan sel kanker dalam tubuh. Selain itu berolahraga dapat membantu menurunkan berat badan Anda (terutama bagi penderita obesitas) dan menyegarkan pikiran Anda sehingga bisa menjauhkan diri dari depresi yang juga akan memicu datangnya penyakit.

 

  • Perhatikan pola makan

Jika Anda disarankan untuk berolahraga secara teratur, maka Anda juga perlu untuk makan secara teratur pula. Hindari konsumsi daging yang terlalu matang dan perbanyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan

 

  • Hentikan rokok dan alkohol

Khusus bagi Anda yang merupakan perokok dan peminum alkohol aktif, mulai kurangi konsumsi alkohol karena kandungan alkohol dapat memicu peningkatan estrogen dalam darah sehingga memudahkan dan mengaktifkan sel-sel kanker untuk menyerang tubuh Anda.

 

  • Hindari lingkungan yang terpapar bahan kimia dan radiasi

Jangan langsung khawatir bila ternyata Anda menderita kanker payudara Karena   kanker payudara bisa diobati dengan cara kemoterapi, terapi, atau operasi jika memungkinkan. Segera cek kondisi payudara Anda sejak dini dan jangan ragu untuk konsultasikan pada dokter.

 

Ditinjau oleh: dr. Adnan Yusuf

 

sumber : meetdoctor

Awas, Terlalu Banyak Minum Air Bisa Mengakibatkan Keracunan!

Awas, Terlalu Banyak Minum Air Bisa Mengakibatkan Keracunan!

Selama ini, kita dianjurkan untuk meminum air sebanyak 8 gelas atau setara dengan 2 liter dalam sehari. Padahal setiap orang memiliki aktivitas, usia, berat badan dan penyakit yang berbeda-beda, yang berarti berbeda pula dalam membutuhkan asupan cairan untuk tubuhnya.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Michael Farrell, Ph.D. dari Monash University di Victoria, Australia mengatakan bahwa orang akan sulit untuk menelan jika dia terlalu banyak mengkonsumsi air. Dia juga berpotensi mengalami hiponatremia atau keracunan air.

Untuk membuktikannya, peneliti menempatkan 20 orang di fungsional MRI (fMRI) scanner dan menyuruh mereka meminum sedikit air dalam dua keadaan yang berbeda, yaitu saat selesai berolahraga dan saat mereka haus. Setelah selesai minum, kemudian mereka disuruh untuk minum lagi dalam jumlah yang sedikit lebih banyak dari  yang pertama tadi. Hasilnya, kondisi orang yang kedua (saat mereka haus) tiga kali lebih sulit untuk menelan daripada kondisi orang yang pertama.

“Refleks menelan akan menjadi lebih sulit karena terlalu banyak minum air” menurut Michael Farrell dalam siaran persnya.

Ketika tubuh dibanjiri air, kadar natrium darah menjadi rendah. Hal ini disebut juga hiponatremia dan kondisi ini dapat menyebabkan kelesuan, mual, kejang, dan bahkan kematian.  Kondisi natrium darah menurun jika natrium telah dilarutkan oleh terlalu banyaknya air dalam tubuh. Pengenceran natrium bisa terjadi pada orang yang meminum air dalam jumlah yang banyak.

“Bahkan ada kasus atlet maraton yang meninggal karena terlalu banyak meminum air. Hal ini terjadi karena dia tidak memperhatikan jumlah air yang diminumnya. Dia minum terlalu banyak dan melebihi kebutuhannya” lanjut Farrel.

Jadi, berapa banyak cairan yang harus Anda dapatkan setiap hari? The Institute of Medicine merekomendasikan bahwa laki-laki membutuhkan sekitar 125 ons (3,7 liter) air dan wanita membutuhkan sekitar 91 ons (2,7 liter) dalam sehari, tapi itu termasuk air dari makanan dan minuman yang Anda konsumsi seperti jus, teh ataupun kopi. Angka itu juga dapat bervariasi berdasarkan usia, berat badan, kondisi kesehatan lainnya dan bagaimana keaktifan Anda dalam beraktivitas (dalam mengeluarkan keringat).

Singkatnya, “janganlah mencoba memaksa apa pun. Karena apa pun yang dipaksakan itu tidak baik. Untuk mencegah keracunan air, lebih baik hindari minum air dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Bahkan jika perlu minum ketika sudah terasa haus” tutup Farrell.

 

Review : dr. Adnan Yusuf

 

 

sumber : meetdoctor