Ini Yang Didengar Dokter Melalui Stetoskop

Ini Yang Didengar Dokter Melalui Stetoskop

Ketika pergi ke dokter atau rumah sakit, sering kali dokter akan menempelkan stetoskop ke tubuh kita. Nah, sebenarnya apa sih yang didengar dokter ketika menggunakan stetoskop itu.

Stetoskop pertama kali dibuat oleh dokter asal Prancis bernama Laënnec di tahun 1819. Kini benda yang menjadi salah satu simbol dari profesi medis ini menjadi alat yang digunakan oleh dokter guna mendengarkan suara di rongga dada seperti detak jantung, suara janin, suara vena, atau suara usus pasien.

Suara jantung

Ketika melakukan pemeriksaan, dokter akan menempelkan stetoskop ke dada guna mendengarkan detak jantung kita. Tujuannya untuk menentukan apakah jantung berdetak dengan benar dan memiliki ritme yang normal, hingga bisa dijadikan patokan mengenai kesehatan jantung kita.

Detak jantung normal hanya memiliki dua suara yaitu suara S1 yang terdengar seperti ‘lub’ dan suara S2 yang terdengar seperti ‘dub’. Kalau ada yang tidak normal, itu berarti jantung kita memiliki masalah. Berikut suara-suara abnormal jantung yang bisa didengarkan dengan bantuan stetoskop:

  • Suara abnormal pada jantung yang paling umum adalah suara murmur, yaitu suara seperti desingan, tiupan, atau suara serak yang terjadi selama jantung berdetak. Ini bisa menandakan jika anak terkena penyakit jantung bawaan cacat jantung, saluran antara aorta dan arteri paru-paru gagal menutup dengan benar. Pada orang dewasa, murmur merupakan tanda adanya masalah pada katup jantung, dan berbagai macam kelainan lainnya.
  • Gallop, irama detak jantung yang menyerupai langkah kuda yang sedang berlari. Ini dapat mengindikasikan adanya gagal jantung, namun jika ditemukan pada atlet berusia muda dan ibu hamil biasanya tidak berbahaya
  • Suara klik atau suara bernada tinggi yang pendek menandakan adanya masalah dengan katup mitral jantung.
  • Suara gesekan, menandakan kita terkena infeksi jenis tertentu karena virus, bakteri, atau jamur.

Suara paru-paru

Dengan menempelkan stetoskop di dada, punggung, tulang rusuk, dan tulang selangka, dokter bisa mendengar apakah suara napas kita normal, tidak normal, menurun, atau tidak ada. Suara paru-paru normal akan terdengar menyerupai suara hembusan angin sedangkan suara yang abnormal diantaranya seperti suara bernada rendah, bernada tinggi, mengi, suara yang bergetar dan keras, atau suara yang menyerupai dengkur bisa menandakan jika kita terkena berbagai penyakit seperti pneumonia, gagal jantung, asma, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis, aliran udara ke paru-paru berkurang, dan kondisi lainnya.

Suara perut

Sebagian besar suara yang diproduksi oleh usus adalah suara pencernaan normal. Tapi jika disertai dengan gejala seperti mual, muntah, diare, sembelit, kelebihan gas, tinja berdarah, dada terasa panas (heartburn), berat badan turun, dan kembung tentu lain lagi ceritanya. Dengan bantuan stetoskop, dokter kemungkinan akan melakukan beberapa tes untuk mendiagnosa penyebab yang mendasarinya.

Suara perut yang terlalu berisik atau tidak bersuara sama sekali kemungkinan disebabkan adanya trauma, hernia, gumpalan darah, tumor, penyumbatan usus, bisul, perdarahan, alergi makanan, tubuh kekurangan kalium, radang usus, usus rusak, paparan radiasi, atau sedang mengonsumsi obat tertentu.

Stetoskop bukan sekedar objek wajib yang melengkapi penampilan dokter, alat yang satu ini berguna untuk membantu dokter mendiagnosis penyakit yang diderita pasien.

 

sumber : alodokor

Ini Bahaya Sinusitis Ketika Terjadi Komplikas

Ini Bahaya Sinusitis Ketika Terjadi Komplikas

Sekilas, gejala sinusitis hampir serupa dengan flu. Meski demikian, jika terjadi gejala-gejala yang tidak umum, waspadai sebagai komplikasi bahaya sinusitis yang segera perlu ditangani dokter.

Sebagian besar sinusitis disebabkan oleh virus yang sembuh sekitar satu minggu. Ketika gejala sinusitis berlanjut 10 hari atau lebih waspadai infeksi bakteri yang dapat menyebabkan komplikasi.

Gangguan pada Rongga Dinding Sinus

Sinusitis atau infeksi sinus yaitu peradangan yang terjadi pada rongga dinding sinus. Penyebab peradangan beragam, mulai dari virus, jamur, bakteri ataupun alergi. Peradangan akibat sinusitis menyebabkan rongga tersebut tidak mampu mengeluarkan cairan sebagaimana seharusnya, sehingga terbentuk lendir.

Gejala yang sering dikeluhkan antara lain hidung mampet atau rasa nyeri tertekan pada wajah dan sakit kepala.

Bahaya sinusitis jika terjadi komplikasi jarang terjadi, namun bisa sangat berbahaya dan mengancam jiwa.  Pria kemungkinan lebih berisiko mengalami komplikasi akibat sinusitis dibandingkan perempuan.

Beberapa komplikasi yang diakibatkan bahaya sinusitis, antara lain:

  • Sinusitis kronis

Sinusitis akut dapat berlanjut menjadi sinusitis kronis dalam jangka waktu lebih panjang. Sinusitis kronis bisa berlangsung selama lebih dari 3 bulan.

  • Infeksi rongga mata

Ini merupakan kondisi terjadinya infeksi pada jaringan bagian belakang rongga mata. Kondisi ini merupakan komplikasi paling sering dari sinusitis yang ditandai dengan pembengkakan kelopak mata, gangguan penglihatan, sulit menggerakkan bola mata, dan gangguan mata lainnya berdasarkan dengan lokasi infeksinya. Untuk mengatasi selulitis orbitalis, pemberian antibiotik melalui infus akan disarankan. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan daya lihat, dan bahkan kebutaan permanen.

  • Infeksi pembuluh darah sekitar sinus

Kondisi ini disebut juga cavernous sinus thrombosis. Gejalanya antara lain turunnya kelopak mata, nyeri di sekitar mata, sakit kepala, dan demam.

  • Osteomyelitis

Adalah infeksi pada tulang bagian depan kepala yang menyebabkan pembengkakan kelopak mata, demam tinggi, sakit kepala hebat, mual dan muntah dan rasa nyeri saat melihat cahaya. Kondisi ini perlu dipastikan dengan CT scan. Selain menggunakan antibiotik, penangananannya membutuhkan tindakan operasi dan pengeringan cairan pada sinus.

  • Meningitis

Infeksi yang muncul ketika terjadi peradangan pada selaput pelindung otak, cairan yang memenuhi sekitar otak, dan sistem saraf pusat. Gejalanya termasuk demam tinggi, sakit kepala berat, leher kaku, sulit berjalan, kebingungan, mual dan muntah.

  • Menghilangnya daya penciuman sebagian atau seluruhnya

Peradangan pada hidung dan pembengkakan saraf yang digunakan sebagai indera penciuman. Kehilangan kemampuan ini bisa terjadi sementara, atau bahkan permanen.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Hampir sebagian besar infeksi sinus jarang menyebabkan komplikasi, tapi ketika muncul bahaya sinusitis yang disertai komplikasi, kondisi ini bisa mengancam nyawa Anda. Pastikan anda mengetahui tanda-tanda komplikasinya sehingga anda bisa mendapatkan pengobatan sesegera mungkin.

Salah satu gejala komplikasi sinusitis yang umumnya muncul adalah mata dan bagian di sekitar mata tidak bisa berfungsi dengan normal. Salah satu atau kedua mata tampak merah atau membengkak. Seringkali diiringi dengan sakit kepala berat, demam tinggi, dan mengantuk. Selain itu, gejala lain yang tergolong berbahaya seperti mual dan muntah, kesulitan berjalan, bahkan hingga penurunan kesadaran.

Jika terjadi gejala-gejala tersebut, konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapat pengobatan dan pencegahan terjadinya komplikasi berbahaya dari sinusitis.

 

sumber : alodoktor

Berbagai Cara Memutihkan Kulit Dan Risiko Pemutih Kulit

Berbagai Cara Memutihkan Kulit Dan Risiko Pemutih Kulit

Pemutih kulit banyak dicari orang, terutama wanita berkulit gelap yang ingin kulitnya lebih cerah. Padahal, tidak jarang produk pemutih kulit ini mengandung bahan yang justru membahayakan kesehatan.

Warna kulit sebenarnya ditentukan oleh jumlah melanin pada kulit. Orang berkulit gelap berarti memiliki lebih banyak melanin, yaitu pigmen yang diproduksi melanosit. Kadar melanin pada tiap orang diturunkan secara genetis. Selain itu, produksi melanin juga dipengaruhi hormon, paparan bahan kimia, kerusakan kulit, dan paparan sinar matahari. Meski demikian, banyak orang yang ingin merekayasa produksi melanin ini agar kulitnya tampak lebih cerah.

Pemutih kulit bekerja dengan mengurangi pigmen bernama melanin pada kulit. Selain digunakan untuk memutihkan kulit, sebagian orang menggunakan produk pemutih untuk menangani bekas jerawat, bintik-bintik pada kulit, serta kulit belang atau berbeda warna.

Pemutihan kulit ini umumnya terdiri dari beragam teknik seperti perawatan laser, krim pemutih kulit, ataupun peeling kimia. Laser bekerja dengan mengangkat lapisan luar atau sel kulit rusak yang memproduksi melanin. Tetapi biaya, durasi, dan hasil yang didapatkan dapat berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, tergantung kondisi tiap orang. Krim anestesi mungkin diperlukan karena prosedur pemutihan kulit dapat menimbulkan sensasi rasa seperti tersengat atau tercubit.

Sementara, krim pemutih kulit yang diresepkan dokter biasanya mengandung kortikosteroid atau hidrokinon, atau keduanya. Di Amerika serikat, dermatologis dapat meresepkan produk pemutih kulit mengandung hidrokinon antara 4–6 %, sedangkan produk yang beredar di pasaran maksimal mengandung hidrokinon 2%.  Produk pemutih lain dapat mengandung asam retinoid, dan bahan alami seperti asam kojik. Ada juga produk pemutih kulit alternatif yang diklaim mengandung bahan-bahan alami. Tetapi, tidak ada jaminan produk ini mendatangkan hasil.

Produk ini umumnya digunakan sekali atau dua kali sehari dengan tangan yang bersih, tapi tidak untuk dioleskan di area sekitar mata, hidung, dan mulut. Selain itu, tabir surya wajib dioleskan untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari.

Risiko Gelap di Balik Pemutih Kulit

Krim pemutih kulit merupakan produk yang banyak digunakan karena gampang ditemukan dan mudah dilakukan sendiri di rumah. Sayangnya, produk pemutih ini mengandung risiko tertentu, terutama jika tidak digunakan sesuai aturan pakai. Meski penggunaannya sudah dilarang, tetapi tidak menutup kemungkinan terdapat produk yang masih menggunakan bahan berbahaya seperti merkuri.

Efek samping yang mungkin timbul dari pemakaian krim pemutih kulit dengan bahan berbahaya antara lain adalah:

  • Kulit gatal dan terkelupas.
  • Terasa terbakar dan menyengat.
  • Kulit membengkak dan merah akibat peradangan dan iritasi.
  • Waspadai pemutih kulit mengandung merkuri bila ingin menggunakan produk bleaching kulit yang dapat dibeli tanpa resep di toko obat, karena bahan aktif yang dikandungnya. Bahan ini dapat menyebabkan gangguan ginjal, saraf, dan kejiwaan.
  • Ibu hamil yang menggunakan produk berbahan merkuri bahkan juga dapat ikut membahayakan janin yang dikandungnya.
  • Penipisan kulit, terbentuknya jaringan parut, pembuluh darah yang nampak pada kulit, kulit yang berubah warna menjadi lebih cerah atau justru lebih gelap.
  • Steroid berisiko menyebabkan infeksi kulit, jerawat, dan  luka yang sulit sembuh. Pemakaian steroid dalam jangka panjang juga berisiko memicu penuaan dini, bahkan risiko kanker kulit akibat paparan sinar matahari.
  • Hidrokinon dapat menyebabkan okronosis atau perubahan warna kulit yang permanen dan tidak diinginkan.

Jika Anda mengidap kondisi kesehatan tertentu, pemutihan kulit juga dapat membawa risiko lebih tinggi. Hindari pemakaian jika tidak tercantum angka jumlah kandungan bahan-bahan di dalamnya pada kemasan. Waspadai juga nama lain merkuri seperti calomel, mercuric, mercurous, mercurio.

Pada intinya, selain membutuhkan waktu, pemutihan kulit juga berbiaya tinggi, mengandung risiko efek samping serta komplikasi, dan hasilnya tidak bisa diprediksi. Bila anda memiliki keinginan untuk memutihkan kulit, diskusikan dengan dokter tentang pilihan cara terbaik yang aman sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. Di samping itu, lebih baik untuk memiliki kulit sehat dan menjaganya dengan pola makan baik, istirahat cukup, dan olahraga teratur.

 

 

sumber : alodoktor

Cara Merawat Kulit Berdasarkan Jenisnya

Cara Merawat Kulit Berdasarkan Jenisnya

Kondisi kulit merefleksikan kesehatan tubuh Anda. Untuk menjaganya tetap terlihat sehat dan segar, pahami berbagai cara merawat kulit dengan benar sesuai jenisnya.

Kulit adalah organ terluar dan terluas yang melindungi tubuh. Kulit mencegah tubuh mengalami dehidrasi, infeksi, serta menjaga suhu tubuh tetap stabil. Kulit juga yang membuat Anda dapat merasakan dingin, panas, dan sakit, serta ikut memroses vitamin D dari sinar matahari.

Pentingnya peran kulit membuat Anda perlu mengetahui cara merawat kulit yang tepat sesuai jenis kulit yang berbeda. Jenis kulit sendiri umumnya dapat dibedakan menjadi: kulit normal, berminyak, kering, dan sensitif. Masing-masing memerlukan perawatan yang berbeda sesuai karakteristiknya.

Kulit Kering

Kulit kering umumnya lebih tidak elastis dibanding jenis kulit lain. Kulit jenis ini juga cenderung terlihat kusam, berkerut, mudah gatal dan mengalami iritasi, kasar, dengan garis wajah yang lebih mudah nampak. Pajanan sinar matahari, perubahan cuaca, air panas, ataupun penggunaan kosmetik dapat memperparah kondisi ini.

Beberapa hal berikut dapat menjadi panduan cara merawat kulit kering.

  • Gunakan sabun dan produk pembersih dengan kandungan yang ringan. Hindari sabun deodoran.
  • Lebih baik ambil waktu singkat saat mandi.
  • Hindari melakukan scrub atau gerakan menggosok saat mandi.
  • Oleskan pelembap setelah mandi. Ulangi setiap kali kulit terasa kering.
  • Sebisa mungkin, kenakan sarung tangan saat menggunakan deterjen ataupun produk pembersih lain.
  • Usahakan agar suhu dalam ruangan tidak terlalu panas.

Produk berbahan dasar petroleum atau minyak adalah yang paling tepat digunakan orang dengan kulit kering. Dibanding krim, bahan ini lebih dapat menahan cairan agar tidak cepat menguap dari kulit.

Kulit Berminyak

Kondisi kulit berminyak dapat berubah dari waktu ke waktu, tergantung pada beberapa hal seperti stres, kelembapan, keseimbangan hormon, dan pubertas. Tetapi jangan khawatir. Kulit berminyak dapat dirawat dengan beberapa cara berikut.

  • Gunakan produk perawatan kulit yang tidak menyumbat pori, yang dapat ditandai dengan label “noncomedogenic.”
  • Cucilah wajah setiap selesai berkeringat. Tetapi, dianjurkan tidak lebih dari dua kali sehari.
  • Hindari memencet jerawat yang muncul pada kulit, karena justru akan membuatnya lebih sulit hilang.
  • Hindari menggosok saat mandi dan pilih pembersih dengan kandungan lembut.

Meski berminyak, tetapi kulit jenis ini tetap memerlukan moisturizer (pelembap) ringan, terutama setelah penggunaan produk yang membuat kulit kering. Selain itu, gunakan losion dengan kandungan air yang lebih tinggi dibanding krim, sehingga lebih tidak berisiko memicu jerawat.

Kulit Normal

Kulit disebut normal ketika tidak terlalu berminyak ataupun terlalu kering, lebih sedikit masalah, pori-pori nyaris tidak terlihat, serta tidak sensitif berlebihan. Lindungi kulit normal dengan mengoleskan pelembap sepanjang hari. Cara merawat kulit normal cukup mudah, Anda hanya perlu memilih moisturizer berbahan dasar air yang terasa ringan dan tidak lengket.

Kulit Sensitif

Kulit sensitif biasanya sering ditandai dengan gejala gatal, terbakar, kering, dan kemerahan. Cara mengatasi gejala-gejala ini adalah dengan mengenali dan menghindari pemicunya. Di samping itu, hal-hal berikut dapat menjadi panduan cara merawat kulit sensitif:

  • Disarankan menggunakan pembersih berbahan yang bersifat lembut, hindari produk dengan kandungan alkohol, sabun, pewangi, dan asam. Produk dengan kandungan bahan alami seperti lidah buaya, kamomil, atau teh hijau dapat menjadi pilihan aman.
  • Pilih produk berlabel hypoallergenic dan berbahan dasar alami. Pilih juga produk yang mengandung sedikit kandungan. Makin sedikit bahan yang digunakan, berarti potensi kerusakan kulit sensitif berkurang.

Secara umum, cara merawat kulit untuk semua jenis kulit kurang lebih sama: hindari merokok dan minuman beralkohol, cukupi kebutuhan tidur, gunakan tabir suryadengan SPF minimal 30, konsumsi cukup air mineral, konsumsi makanan sehat, dan olahraga teratur.

Rambu-Rambu Pemutihan Gigi

Rambu-Rambu Pemutihan Gigi

Memutihkan gigi tidak jarang menjadi salah satu cara yang ditempuh untuk meningkatkan kepercayaan diri. Tetapi, cara pemutihan gigi dianjurkan dilakukan dengan hati-hati oleh dokter.

Pemutih gigi bekerja dengan mempercerah warna gigi asli. Perawatan ini dapat dikerjakan oleh dokter gigi profesional, salon kecantikan, atau dilakukan sendiri dengan perangkat yang dijual bebas di pasaran. Namun, selain tidak bersifat permanen, terdapat risiko lainnya jika menjalani pemutihan gigi oleh pihak-pihak yang bukan tenaga profesional.

Umumnya, cara pemutihan gigi dilakukan dokter dengan dua cara utama:

  • Cetakan gigi: dokter akan membuat cetakan gigi Anda untuk dikenakan di rumah bersamaan dengan penggunaan gel pemutih pada gigi. Perawatan yang berlangsung selama kurang lebih sebulan ini mengharuskan Anda berkunjung rutin ke dokter untuk memeriksakan gigi. Beberapa jenis gel pemutih tertentu dapat digunakan selama delapan jam, sehingga periode perawatan dapat menjadi lebih singkat.
  • Laser pemutih: laser disorotkan ke jajaran gigi yang sudah diolesi produk pemutih. Sorotan yang dilakukan selama sekitar 60 menit ini berguna untuk mengaktifkan pemutih tersebut. Perawatan ini berharga lebih mahal dibanding metode yang menggunakan cetakan.

Hal yang patut diperhatikan, pemutihan gigi disarankan hanya diaplikasikan pada orang dengan gigi dan gusi yang sehat. Ini karena seperti prosedur lain, pemutihan gigi juga mengandung risiko tertentu.

Amankah Memutihkan Gigi?

Secara medis, prosedur pemutihan gigi dapat dilakukan jika terjadi masalah pada gigi seperti matinya saraf maupun dengan tujuan estetika atau untuk kecantikan. Namun, pemutihan gigi yang dilakukan di salon-salon kecantikan tanpa arahan dokter memiliki risiko yang bisa membahayakan kesehatan gigi Anda.

Cetakan gigi yang tidak dibuat oleh dokter mungkin tidak terpasang dengan tepat, sehingga menyebabkan gusi melepuh akibat bocornya gel pemutih. Risiko serupa juga dapat terjadi dengan produk-produk pemutih gigi yang dijual bebas. Produk-produk ini dinilai tidak efektif dalam memutihkan gigi. Selain itu, penggunaan produk pemutih pada gigi sensitif justru bisa memperburuk kondisi.

Sementara itu, produk pemutih atau bleaching yang mengandung peroksida ataupun produk lain yang dijual bebas berisiko menyebabkan gigi sensitif, iritasi gusi, hingga kerusakan enamel atau email gigi.

Sebelum Memutihkan Gigi

Mengingat risiko yang mungkin timbul, penting untuk memperhatikan hal-hal di bawah ini sebelum memutihkan gigi.

  • Masalah-masalah seperti sakit gigi, gigi berlubang dan gusi yang bengkak disarankan dituntaskan penanganannya sebelum menjalani perawatan.
  • Jika Anda memutuskan menggunakan produk pemutih gigi yang dijual bebas, baca cara pakai dan bahan-bahan yang terkandung di dalamnya dengan cermat. Hindari kandungan bahan seperti peroksida dengan persentase tinggi untuk mengurangi risiko penggunaannya.
  • Bahan yang terkandung di dalam pemutih gigi tidak disarankan untuk digunakan pada ibu hamil dan menyusui.
  • Pemutih gigi yang diaplikasikan pada gigi dan gusi yang sehat sekalipun tetap berisiko menyebabkan gigi sensitif untuk beberapa saat.
  • Hasil pemutihan gigi hanya dapat bertahan dalam hitungan bulan hingga maksimal selama 2 tahun. Efeknya akan makin cepat hilang jika Anda sering mengonsumsi teh, kopi, soda, atau merokok.

Konsultasikan kepada dokter gigi atau orang yang sudah menjalani cara pemutihan gigi di atas untuk membuat Anda merasa lebih yakin dalam memilih perawatan. Pastikan Anda mendapatkan informasi program secara tertulis berikut estimasi biaya yang dibutuhkan, serta risiko yang mungkin timbul sebelum menjalani perawatan.

 

 

sumber : alodoktor

Menghalau Bau Mulut Tidak Sedap

Menghalau Bau Mulut Tidak Sedap

Bau mulut adalah masalah umum yang dialami banyak orang dari segala usia. Di sisi lain, bau mulut tidak sedap ternyata juga dapat menjadi indikasi adanya penyakit tertentu.

Meski tampak sederhana, tapi bau mulut yang tidak ditangani dapat membuat orang tidak percaya diri. Tidak jarang, kondisi ini mengganggu hubungan personal. Apalagi kondisi ini ternyata bersifat menetap pada sekitar seperempat orang yang mengalaminya.

Mendeteksi Penyebab Bau

Bau mulut yang tidak sedap umumnya disebabkan penumpukan bakteri pada gigi, gusi, dan lidah. Umumnya, kondisi tersebut muncul ketika terjadi penurunan kadar air liur yang berperan sebagai pembersih bakteri atau kebersihan gigi kurang. Kondisi ini disebut mulut kering atau xerostomia. Selain itu, mulut kering juga dapat disebabkan oleh tarikan napas melalui mulut, bukannya melalui hidung. Merokok, diet, serta konsumsi makanan, minuman, atau obat tertentu juga dapat menjadi penyebab bau mulut.

Namun pada kondisi tertentu, bau mulut dapat terjadi karena penyebab yang lebih serius seperti berikut ini:

  • Masalah gastrointestinal (perut dan usus): bau mulut tidak sedap dapat disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan perut dan usus (gastrointestinal) seperti infeksi H. pylori (infeksi bakteri pada usus kecil dan lapisan perut), serta penyakit asam lambung atau GERD di mana asam lambung sering naik ke kerongkongan.
  • Masalah gusi: bau mulut  tidak sedap yang berlangsung terus-menerus juga dapat disebabkan oleh masalah gusi. Penyakit gusi disebabkan oleh penumpukan plak pada gigi. Bakteri pada plak kemudian menyebabkan racun yang menimbulkan peradangan pada gusi, suatu kondisi yang jika tidak ditangani akan membahayakan gusi dan tulang rahang.
  • Penyakit yang memengaruhi kelenjar air liur seperti sindrom Sjögren atau skleroderma. Penyakit ini juga menjadi penyebab mulut kering.
  • Infeksi pada mulut seperti sariawan atau luka setelah pencabutan gigi.
  • Peradangan kronis atau peradangan pada sinus, hidung, atau tenggorokan.
  • Kanker dan gangguan-gangguan metabolisme.

Periksakan diri ke dokter jika bau mulut disertai gejala lain yang dapat merujuk pada kondisi-kondisi di atas.

Menangkal Bau Mulut Tidak Sedap

Kabar baiknya, bau napas yang tidak sedap bisa diantisipasi dan dicegah dengan cara-cara sederhana. Berikut beberapa di antaranya.

  • Sikatlah gigi Anda setidaknya pagi dan sore, masing-masing minimal dua menit. Usahakan untuk menyikat seluruh gigi, lidah, langit-langit mulut, dan gusi dengan pasta gigi berflouride. Jangan lupa ganti sikat gigi Anda setiap tiga bulan sekali. Selain itu, berkumurlah dengan cairan antibakteri dan menggunakan benang gigi (dental floss) untuk  menghilangkan sisa-sisa makanan yang tidak terjangkau sikat gigi.
  • Minum cukup air dan kunyah permen karet bebas gula. Aktivitas mengunyah bisa menstimulasi kemunculan air liur yang akan menghindarkan Anda dari mulut kering penyebab bau mulut yang tidak sedap. Minum cukup air secara teratur bisa membuat mulut Anda tetap lembap.
  • Hindari konsumsi makanan dan minuman penyebab bau mulut tidak sedap, termasuk kebiasaan merokok.
  • Selain itu, mengonsumsi buah-buahan dan sayuran secara teratur dan mengurangi konsumsi daging, dapat mengurangi risiko bau napas tidak sedap.
  • Periksakan gigi secara teratur, untuk mencegah penyakit-penyakit gigi dan gusi penyebab bau napas.

Sebagian orang selalu cemas bahwa mereka memiliki bau napas tidak sedap, padahal sebenarnya sama sekali tidak. Ketakutan semacam ini disebut halitofobia. Pengidap halitofobia terobsesi selalu membersihkan mulut sesering mungkin. Terapi perilaku kognitif dapat membantu menangani paranoid ini.

 

sumber : alodoktor